Sastra Populer: Hiburan Ringan dan Cermin Masyarakat

Sastra Populer: Hiburan Ringan dan Cermin Masyarakat
Sastra Populer: Hiburan Ringan dan Cermin Masyarakat

Rakyat Resah. Sastra populer merupakan jenis sastra yang bertujuan untuk menghibur pembaca. Berbeda dengan sastra kanon atau sastra serius yang mengajak pembaca untuk merenungkan dan meresapi permasalahan yang diangkat, sastra populer hadir dengan cerita-cerita ringan dan mudah dipahami.

Sastra populer lahir dari budaya populer yang berkembang di masyarakat. Budaya populer sendiri merupakan budaya yang lahir dari media dan menjadi ajang untuk menawarkan ideologi dan sarana untuk memuaskan perilaku konsumsi masyarakat.

Sejarah Sastra Populer di Indonesia

Sastra populer di Indonesia sudah ada sejak abad ke-19, ditulis oleh kaum Indo-Belanda, peranakan Cina, dan kaum pribumi. Pada masa ini, tema yang menonjol adalah cerita kehidupan para nyai, cerita kriminal, cerita hantu, dan cerita percintaan. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Pasar.

Pada tahun 1930-an, sastra populer mulai muncul di kehidupan masyarakat dengan terbitnya cerita berjudul “Sobat Anak-Anak” karya Liem Kim Hok. Di tahun 1950-an, novel dan cerpen dengan tema percintaan, detektif, dan koboi mulai mendominasi.

Tahun 1970-an menjadi masa keemasan sastra populer di Indonesia. Tren ini dipicu oleh kebutuhan pembaca akan pengalaman baru dan hiburan. Di tahun 2000-an, muncul genre baru seperti metropop dan cyberlit yang semakin memperkaya khazanah sastra populer Indonesia.

Ciri-ciri Sastra Populer

  • Tema ringan dan menghibur: Sastra populer mengangkat tema-tema ringan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti percintaan, persahabatan, dan keluarga.
  • Bahasa mudah dipahami: Sastra populer menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas, tanpa istilah-istilah yang rumit.
  • Plot sederhana: Sastra populer memiliki plot yang sederhana dan mudah diikuti, sehingga pembaca tidak perlu berpikir keras untuk memahami alur cerita.
  • Tokoh yang relatable: Tokoh-tokoh dalam sastra populer biasanya relatable dengan pembaca, sehingga pembaca dapat merasa dekat dengan mereka.
  • Bersifat komersil: Sastra populer bertujuan untuk menghibur dan memuaskan pembaca, sehingga karya-karya sastra populer biasanya diterbitkan dengan tujuan komersil.

Contoh Karya Sastra Populer di Indonesia

  • Sobat Anak-Anak karya Liem Kim Hok
  • Atheis karya Achdiat Karta Mihardja
  • Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka
  • Gita Cinta dari SMA karya Eddy D. Iskandar
  • Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy
  • Laskar Pelangi karya Andrea Hirata
  • Perahu Kertas karya Dewi Lestari
  • Koala Kumal karya Raditya Dika
  • Dear Nathan karya Erisca Febriani

Sastra Populer sebagai Cermin Masyarakat

Sastra populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi cermin masyarakat. Karya-karya sastra populer dapat memberikan gambaran tentang nilai-nilai, kepercayaan, dan gaya hidup masyarakat pada suatu masa tertentu.

Sebagai contoh, novel-novel metropop yang populer di tahun 2000-an menggambarkan kehidupan kaum urban di kota-kota besar Indonesia. Novel-novel tersebut mengangkat tema-tema seperti karier, percintaan, dan persahabatan yang dekat dengan kehidupan kaum urban.

Kesimpulan

Sastra populer merupakan jenis sastra yang menghibur dan mudah dipahami. Sastra populer lahir dari budaya populer dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Sastra populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi cermin masyarakat.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url